Blogger Widgets

Selasa, 17 Maret 2015

ELIXIR FARMASI

PEMBUATAN ELIXIR


dr. Fay Nurdin
SIP. NO. 30/III/DKK/2009
Jl. Kulintang 3 Samarinda
                                 Samarinda,25 Maret 2010

R/ Phenobarbital  80 ml (20 mg / 5 ml)
     m.f. elixir
     S.t.dd.cth I

Pro : Siti Wanda
Jl. Soetomo Gang 2 Samarinda

I   Resep Asli / Standar

Senin, 16 Maret 2015

FARMASI SERBUK

farmasetika dasar serbuk


Farmasetika Dasar

Serbuk
Menurut Farmakope III:
Campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan.
Definisi secara umum:
Bahan obat atau racikan obat untuk keperluan dalam atau luar yang diserbukkan dalam keadaan bercampur atau tak tercampur dengan  atau tanpa bahan pembantu, terbagi atau tidak terbagi.
Serbuk obat terbagi atas
1. Serbuk kemas (Pulvis)
Diberikan utuh dalam satu wadah ke pasien (pemakai).
Obat-obatan yang dibuat pulvis adalah obat yang efek terapinya tidak keras . Misalnya obat pencahar, serbuk gigi, serbuk luka, bedak untuk kulit.
Bila tidak dikatakan lain penakarannya menggunakan sendok teh.
  1. Serbuk berdosis tunggal (pulveres)
  2. Serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
 Keuntungan sediaan obat serbuk
 -  Serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih mudah larut daripada bentuk sediaan  oral lain, sehingga dengan segera dapat memberikan efek terapi.
-  Lebih mudah untuk ditelan dibanding sediaan padat lainnya.
-  Lebih stabil dibanding sediaan cair.
-  Lebih mudah dalam pengaturan dosis.
Kerugian bentuk sediaan serbuk
Sukar untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak.
-  Tidak dapat disimpan lama
-  Durasi efek dan waktu mulai berefek tidak dapat diatur.

FARMASI KAPSUL

KAPSUL Sejarah kapsul Istilah “KAPSUL” Berasal dari bahasa latin: kapsula (kotak kecil) ü 1833àKapsul lunak pertama kali diperknalkan oleh Mothes dan Dublanc dariPerancis
ü 1847àKapsul keras diperkenalkan oleh Murdock (Inggris) th 1847 Awalnya obat dibuat dari tumbuhan keras, misalnya akar. Kulit kayu, dan kayu yang diberikan dalam bentuk kapsul. Setelah dikenal obat sintetik, kapsul lalu digunakan untuk pemberian obat yang tidak larut, misalnya : kalomel, garam bismuth, merkuri dan kapur. Definisi Kapsul Sediaan kapsul merupakan partikel zat padat yang mempunyai ukuran 0,1- 10.000 μ. Dalam ilmu farmasi, sediaan kapsul dapat diartikan sebagai campuran homogen dua atau lebih bahan obat yang telah dihaluskan. F.I. Edisi IV : Kapsulà “sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut”. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, bisa juga dari pati atau bahan lain yang sesuai. Persyaratan Sediaan Kapsul F.I. Edisi IV Kapsul harus memenuhi syarat: Keseragaman kandungan ü Keseragaman bobot ü Keseragaman kandungan Disolusi Keseragaman Sediaan • Keseragaman Bobot ü Untuk kapsul lunak berisi cairan atau ü Untuk produk yang mengandung zat aktif > 50 mg yang merupakan 50% /> dari bobot per kapsul • Keseragaman Kandungan Disolusi Tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak, kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing mongrafi Contoh: kapsul Amoksisilin : dalam waktu 90 menit harus larut tidak kurang dari 80% Amoksisilin dari jumlah yang tertera pada etiket Karakteristik Sediaan Kapsul l Homogen : setiap bagian campuran kapsul harus mengandung bahan yang sama dalam perbandingan yang sama pula. l Kering : tidak boleh menggumpal atau mengandung air karena mengandung bahan yang higroskopis, efloresen, deliquesen ataupun campuran eutektik. l Derajat kehalusan tertentu Bila ukuran partikel kapsul sangat halus, maka : - Kapsul lebih homogen - Disolusi makin cepat sehingga kadar obat dalam darah yang tinggi cepat di capai - Dengan permukaan yang luas akan memberi daya adsorpsi yang besar Keuntungan Sediaan Kapsul ü Bisa menutupi rasa dan bau bahan obat yang tidak enak ü Memudahkan penggunaan (dibanding sediaan serbuk) ü Mempercepat penyerapan (dibanding sediaan pil dan tablet) ü Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan extemperaneous à dosis dan kombinasi obat mudah divariasi sesuai kebutuhan pasien ü Dapat dibuat sediaan cair dengan konsisten teertentu ü Dapat digunakan untuk depot capsule dan enteric coated capsule ü Lebih stabil dibanding bentuk sediaan cair ü Ukuran partikel kecil sehingga disolusi dalam cairan tubuh lebih cepat dibanding pil dan tablet ü Bentuknya menarik dan praktis ü Mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam perut ü Kapsul dapat diisi dengan cepat Kerugian Sediaan Kapsul ü Kurang baik untuk bahan obat yang tak tahan lembab, kontak dengan udara ü Obat yang pahit akan menyebabkan muntah,korosif yang sulit diatasi ü Perlu waktu peracikan relative lama ü Tidak bisa untuk zat yang mudah menguap ü Tidak bisa untuk zat yang higroskopis ü Tidak bisa untuk zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul ü Tidak bisa untuk balita ü Tidak bisa dibagi setengah ü Tidak sesuai untuk bahan obat yang sangat mudah larut (KCL, CaCl2, KBr,NH4Br) àbila kapsul yang pecah kontak dengan dinding lambungà larutan pekatàiritasi dan penegangan lambung ü Tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang sangat efloresen atau delikuesen l Bahan efloresen à kapsul jadi lunak l Bahan delikuesen àkapsu;l jadi rapuh dan mudah pecah Macam Sediaan Kapsul Berdasarkan konsistensi: • Kapsul keras (capsulae durae, hard capsul ) • Kapsul lunak (capsulae molles, soft capsul) Berdasarkan Cara Pemakaian: • Per oral • Per rektal • Per vaginal • Topikal Berdasarkan Tujuan Pemakaian: • Untuk manusia • Untuk hewan Kapsul Keras l Bahan penyusun cangkang kapsul keras: ü Bahan dasar : gelatin, gula (pengeras), air (10-15%) ü Bahan tambahan : pewarna, pengawet (SO2), pemburam (TiO2), flavoring agent l Ukuran dan kapasitas cangkang kapsul keras: ü Ukuran q Untuk manusia : 000, 00, 0, 1, 2, 3, 4, 5 q Untuk hewan : 10, 11, 12 ü Bentuk kapsul keras Contoh: NO UKURAN ASETOSAL (dalam gram) Natrium Bikarbonat (dalam gram) NBB (dalam gram) 000 00 0 1 2 3 4 5 1 0,6 0,5 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 1,4 0,9 0,7 0,5 0,4 0,3 0,25 0,12 1,7 1,2 0,9 0,6 0,5 0,4 0,25 0,12 Kapsul Lunak l Bahan penyusun cangkang kapsul lunak: ü Bahan dasar : q Gelatin q Bahan pelunak(poly-ol) q Gula q Air (6-13%) ü Bahan tambahan : q Pengawet q Pewarna q Pemburam q Flavor q Penyalut enterik l Bentuk dan kapasitas cangkang kapsul Lunak: ü Bentuk q Bulat : kapasitan 0,05 - 6 ml q Oval : kapasitas 0,05 - 6,5 ml q Oblong : kapasitas 0,15 - 25 ml q Tube : kapasitas 0,15 - 30 ml q Miscellar : kapasitas 0,30 - 5 ml ü Kapasitas 1-480 minims (1 minim = 0,06 ml) l Pemakaian kapsul lunak ü Untuk : Obat, kosmetika,sabun, bhn makanan,dsb ü Isi : cairan, pasta, serbuk, granul, pellet Formula & Cara Pembuatan l FORMULA UMUM R/ Bahan Obat Bahan tambahan - Bahan obat: Padat, setengah padat, & cair l CARA PEMBUATAN: à 5 tahap : • pengecilan ukuran partikel • Pencampuran • Pemilihan ukuran kapsul • Pengisian • Membersihkan kapsul Pengecilan Ukuran Partikel l Prinsip à pada pengerjaan serbuk ada 2 cara: ü Cara penggerusan/ trituration ü Cara pulverization by intervention Pencampuran Bahan l Bahan obat (padat , setengah padat,atau cair) dicampur homogen dengan bahan pembantu dengan proses yang sama seperti pada sediaan serbuk, ada 4 cara: a. Cara spatulasi b. Cara penggerusan c. Cara pengayakan d. Cara penggulungan Pemilihan Ukuran Kapsul l Kapsul keras à pada umumnya untuk serbuk dengan bobot 65 mg – 1 g l Bila bobot < à + bahan inert ad +75% kapasitas kapsul (minimal) l Bila bobot > à masukkan 2 atau > kapsul yang < à sesuaikan aturan pakainya, misal: 3 dd caps.I à 3 dd caps. II l Ukuran kapsul à sesuaikan dengan umur pasien Contoh: l Cara pemilihan ukuran kapsul 1. Hitung bobot bahan obat per kapsul misal x gram 2. Pilih cangkang kapsul dengan kapasitas ~ bobot bahan obat 3. Tara isi cangkang kapsul dengan bahan inert, misal y gram 4. Bila, x ~ y à bahan obat dimasukkan kapsul x<>y à bahan obat diracik dalam 2/> kapsul dengan ukuran < Pengisian Kapsul l Bahan obat bentuk padat 1. Tanpa alat ü Cara blocking and dividing: sama seperti pada pembuatan serbuk terbagi. Dilanjutkan dengan pengisian serbuk kedalam kapsul dengan bantuan spatel/sudip. ü Metode punching: serbuk diatas kertas dibentuk datar dengan tinggi ¼ inci à induk kapsul diiisi serbuk dengan menekan ujung yang terbuka berulang-ulang pada serbuk. 2. Dengan alat Contoh l Bahan obat cair ü Induk kapsul kosong ditara ü Teteskan campuran bahan obat cair (penetes tegak lurus) ke dalam induk kapsul sambil dihitung jumlah tetesan ad bobot yang diminta ü Kapsul yang lain diisi ü Kapsul ditutup rapat à olesi mucilago gom arab à ditutup sambil diputar Membersihkan Kapsul l Dengan kain kasa/tissue kering l Dengan kain kasa/tissue dibasahi alkohol l Dengan NaCl granuler Tujuan membersihkan: 1. Agar penampilan bagus 2. Menghilangkan sisa bahan obat di luar dinding kapsul, untuk mencegah: ü Rasa dan bau yang kurang enak ü Rusaknya dinding kapsul Pembuatan Kapsul dengan Bahan Bersifat Khusus l Bahan Obat Higroskopis & Delikuesen àbahan obat desekat dengan MGCO3 atau MgO (+1 gram/kapsul) àgunakan wadah tertutup rapat l Bahan Obat mrpkn Campuran Eutektik àdicegah terjadinya eutektik dengan menyekat masing-masing bahan obat dengan bahan inert (MgCO3, MgO, kaolin) à dibiarkan terjadi eutektik, kemudian dikeringkan dengan bahan inert Contoh l Bahan Obat dapat Merusak Cangkang Kapsul ü Cairan mengandung air dan larutan yang sangat pekat (mis. Ichtyol) à dibuat massa pil à masuk kapsul ü Cairan mengandung etanol < 90% à dibuat massa pil à masuk kapsul ü Bahan obat dengan kadar fenol tinggi (mis. Kreosot) : 1. Dibuat ,massa pil à masuk kapsul 2. Diencerkan dengan minyak lemak ad kadar < 40% à masuk kapsul l Bahan Obat Tak Tercampurkan : ü Sekat dengan bahan inert ü Buat pil dalam kapsul ü Buat kapsul dalam kapsul Wadah Dan Penyimpanan Sediaan Kapsul l Kapsul gelatin keras harus disimpan di tempat : ü Dingin ü Dengan kelembaban sedang ü Dalam wadah bermulut lebar dan tertutup rapat l F.I. Edisi III ü Di tempat sejuk ü Dlm wadah tertutup rapat ü Sebaiknya ditambah pengering l F.I. Edisi IV ü Simpan dalam wadah tertutup rapat ü Tidak tembus cahaya ü Pada suhu kamar terkendali Etiket & Label Sediaan Kapsul l Etiket - putih : obat dalam - biru : obat luar - ukuran: sesuai dengan wadahnya l Label N.I : diletakkan dibawah etiket

INFO FARMASI

Sediaan Farmasi Krim (Cremores) by Arini Ilma Dina on Maret 16, 2015 Krim (cremores) . Apa sih yang pertama kali ada di benak kalian saat aku ngomong “krim” ? ya, pasti arti dari krim itu sendiri. Krim itu apa sih sebenranya? Nah, Krim (cremores) itu adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai dan mengandung air tidak kurang dari 60%. Sedangkan emulsi itu sendiri adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan–tetesan kecil, yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok. Krim itu memiliki dua tipe, yaitu 1. krim tipe minyak dalam air (M/A) yaitu air terdispersi dalam minyak, Contoh : Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar. 2. krim tipe air dalam minyak (A/M). yaitu minyak terdispersi dalam air. Contoh: Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit. Krim yang dapat dicuci dengan air (M/A) ditujukkan untuk penggunaan kosmetik dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian melalui vagina. Formula Dasar Krim 1. fase minyak ,yaitu bahan obat larut dalam minyak bersifat asam. Contoh: asam stearat, parafin liq, cetaceum, cera, vaselin dan lain-lain. 2. fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa. Contoh: Natr. Tetraborat (borax, Na. Biborat), TEA, NaOH, KOH, gliserin dan lain-lain. Bahan-bahan Penyusun Krim 1. Zat berkhasiat 2. Minyak 3. Air 4. Pengemulsi 5. Bahan Pengemulsi Bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim 1. Zat pengawet, untuk meningkatkan stabilitas sediaan 2. Pelembab 3. Antioksidan, untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh. Stabilitas krim Krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh perubahan suhu dan komposisi, misalnya adanya penambahan salah satu fase secara berlebihan. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai dengan pengenceran yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan. Bahan pengemulsi krim harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikendaki. Sebagai bahan pengemulsi krim, dapat digunakan emulgid, lemak bulu domba, setasiun, setilalkohol, stearilalkohol, golongan sorbitan, polisorbat, PEG, dan sabun. Bahan pengawet yang sering digunakan umumnya adalah metilparaben (nipagin) 0,12 – 0,18% dan propilparaben (nipasol) 0,02 – 0,05%. Metode pembuatan krim : 1. Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi 2. komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 °C 3. semua larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak 4. larutan berair secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak 5. campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental 6. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair Pengemasan Sediaan krim dikemas sama seperti sediaan salep yaitu dalam botol atau tube Evaluasi krim Agar system pengawasan mutu dapat berfungsi dengan efektif, harus dibuatkan kebijaksanaan dan peraturan yang mendasari dan ini harus selalu ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan semata-mata adalah demi mutu obat yang baik. Kedua, setia pelaksanaan harus berpegang teguh pada standar atau spesifikasi dan harus berupaya meningkatkan standard an spesifikasi yang telah ada. 1. Organoleptis Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna, tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden ( dengan kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya pengujianya ( macam dan item ), menghitung prosentase masing- masing kriteria yang di peroleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik. 1. Evaluasi pH Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 60 g : 200 ml air yang di gunakan untuk mengencerkan , kemudian aduk hingga homogen, dan diamkan agar mengendap, dan airnya yang di ukur dengan pH meter, catat hasil yang tertera pada alat pH meter. 2. Evaluasi daya sebar Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang berskala. Kemudian bagian atasnya di beri kaca yang sama, dan di tingkatkan bebanya, dan di beri rentang waktu 1 – 2 menit. kemudian diameter penyebaran diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan berhenti menyebar ( dengan waktu tertentu secara teratur ). 3. Uji Homogenitas 1. Alat : objek glass Cara : jika dioleskan pada sekeping objek glass lalu di timpa dengan objek glass yang lain harus menunjukkan susunan yang homogen. Pengamatan: kedua Krim yang dihasilkan homogen. 4. Evaluasi penentuan ukuran droplet Untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan krim ataupun sediaan emulgel, dengan cara menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada objek glass, kemudian diperiksa adanya tetesan – tetesan fase dalam ukuran dan penyebarannya. 5. Uji aseptabilitas sediaan. Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner di buat suatu kriteria , kemudahan dioleskan, kelembutan, sensasi yang di timbulkan, kemudahan pencucian. Kemudian dari data tersebut di buat skoring untuk masing- masing kriteria. Misal untuk kelembutan agak lembut, lembut, sangat lembut 6. UjiType Cream 7. Cream dilarutkan dalam air Cara: sebagian krim di larutkan dengan air ke dalam beaker glass, diaduk. Pengamatan : Krim tidak larut dalam air 1. Cream ditambahkan metil biru Cara: sebagian krim dilarutkan dengan air dan ditetesi dengan metal biru, diaduk. Sebagian lgi diletakkan di atas objek glass dan ditetesi metil biru, homogenkan. Tutup dengan cover glass dan lihat dibawah mikroskop. Pengamatan :Krim I biru tidak homogen dan dilihat dibawah mikroskop terdapat bulatan- bulatan besar yang tidak merata 2. Cream diletakkan sedikit diatas kertas saring Cara: teteskan sedikit krim di atas kertas saring, amati. Pengamatan :Krim tetesan krim tidak menyebar Kelebihan Sediaan Krim 1. Mudah menyebar rata 2. Praktis 3. Mudah dibersihkan atau dicuci 4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat 5. Tidak lengket terutama tipe m/a 6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m 7. Digunakan sebagai kosmetik 8. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun. Kekurangan Sediaan Krim 1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan panas 2. Mudah pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas. 3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan

FARMASI LOTION

Sediaan Hand and Body Lotion dengan Bahan aktif Ekstrak Teh Hijau dan Apel yang Berfungsi sebagai Antioksidan Filed under: Kosmetika Alami
 TUJUAN 
 Membuat sediaan hand and body lotion yang berfungsi sebagai antioksidan dengan bahan aktif campuran ekstrak teh dan apel
 DASAR TEORI
  Lotion merupakan suatu emulsi. Emulsi adalah suatu tetes cairan yang terdispersi dalam cairan yang lain dan dapat dilihat dibawah mikroskop atau emulsi adalah suatu sistem heterogan terdiri dari dua cairan yang tidak bercampur, yang satu terdispersi yang lain dalam bentuk tetes kecil yang mempunyai diameter pada umumnya lebih dari 0,1mm (Becher,1977) Dalam bidang farmasi, secara sederhana emulsi diartikan sebagai campuran homogen dari dua cairan yang dalam keadaan normal tidak dapat bercampur (fase air dan fase minyak) dengan pertolongan bahan penolong yang disebut emulgator. Sediaan farmasi atau kosmetika dalam emulsi banyak sekali dijumpai dalam sedian topikal maupun sistemik. Untuk sediaan per oral, kebanyakan adalah tipe O/W. Bentuk ini mempunyai banyak keuntungan selain mudah diabsorbsi juga homogenitas dosis mudah didapat. Untuk penggunaan topikal, tipe emulsi O/W maupun W/O banyak sekali digunakan tergantung maksud penggunaanya Tumbuh-tumbuhan diketahui kaya akan antioksidan alami misalnya : vitamin E, vitamin C, beta karoten dan flavonoid. Oleh karena itu tumbuhan dapat menjadi sumber-sumber baru antioksidan yang potensial (Kikuzaki dan Nakatani,1993, Al-Saikhan dkk,1995). Bagian tumbuhan yang mengandung aktioksidan tinggi adalah Daun Teh Hijau dan Buah Apel 1. Teh Hijau Di zaman dahulu, genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis, assamica, irrawadiensis. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus, yaitu sinensis, assamica dan irrawadiensis. Menurut Graham HN (1984); Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989), tanaman teh Camellia sinens O.K.Var.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta (tumbuhan biji) Sub divisi : Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Kelas : Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Sub Kelas : Dialypetalae Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales) Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae) Genus (marga) : Camellia Spesies (jenis) : Camellia sinensis Varietas : Assamica Morfologi : Pohon karena pemangkasan kerap kali seperti perdu, tinggi 5-10 meter. Ujung ranting dan daun muda berambut halus. Daun tersebar,tunggal helaian daun eliptis memanjang denga pangkal runcing, bergerigi, seperti kulit tipis, 6-8 kali 2 sampai 6 cm. Bunga diketiak, berkelamin dua, bunga yang membuka menunduk, garis tengah 3-4 cm, sangat harum, putih cerah (V Steenis, 1975). Senyawa bioaktif di dalam teh, diantaranya adalah;Flavonoid. Flavonol merupakan golongan senyawa flavonoid yang paling banyak pada teh. Monomer flavonol yang paling banyak dikenal adalah katekin. Jenis katekin yang terdapat dalam teh antara lain: epikatekin (EC), epigallocatechin (EGC), epikatekin gallat (ECG) dan epigallokatekin gallate (EGCG) ( Balentine, 2000) Khasiat : Antimutagenik, antioksidan, antitumor, dan pencegah kanker (Valac et al,1996) 2. Buah apel Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Sub Kelas : Dialypetalae Ordo (bangsa) : Rosales Familia (suku) : Rosaceae Subfamili : Maloideae Genus (marga) : Malus Spesies (jenis) : Malus domestica Apel mengandung senyawa phenolic. Senyawa phenolic yang dominan adalah quercetin, epikatekin, dan prosianidin B2 (PMID 14558772). Ekstrak etanol dari apel mempunyai konsentrasi antioksidan yang tinggi. Aktivitas antioksidan berasal dari senyawa polipenol, asm fenolat, dan flavonoid. Kemampuan antioksidan tersebut dapat diukur dengan 1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH), beta-carotene bleaching (beta-carotene), dan nitric oxide inhibition radical scavenging (NO) (Leontowicz, 2003). Senyawa antioksidan fenolik dari buah apel dapat berfungsisebagai antioksidant, sitoprotektive dan antiproliferatif pada sel karsinoma kolon (Tarozzi A, 2004). Apel mempunyai kadar polipenol jauh lebih tinggi daripada buah per dan peach. Kadar polipenol total yaitu 1,2 + 0,12g tiap 100 g apel. Caffeat, p-cumaric dan asm ferulat serta nilai total radical-trapping antioxidative potential (TRAP) pada apel lebih tinggi signifikan daripada buah per dan peach (Leontowicz, 2002). Biji apel mengandung racun, terdiri dari sejumlah kecil amygdalin dan glikosida sianogen, tetapi membutuhakan banyak biji untuk menghasilkan efek toksik Penelitian menunjukkan apel dapat menurunkan resiko kanker kolon, kanker prostat, dan kanker paru-paru. Seperti buah lainnya, apel terdiri dari vitamin C, dimana sebagai antiokasidant yang dapat menurunkan resiko kanker dengan mencegah kerusakan DNA.
 ALAT dan BAHAN  
Alat
  Maserasi Toples Gelas ukur Kain flanel pengaduk penangas air wajan pot ekstrak Pembuatan lotion Mortir Stamper Sudip Penangas air Cawan persolein pengaduk Bahan Ekstrak Teh hijau cap Kepala Jenggot 200g Apel 200g etanol 96% 375 ml Aquades 375 ml Formulasi : 1. Campuran Ekstrak Teh hiaju dan Apel 2 mg 2. Bagian A Setil alkohol 0,5 mg Lanolin 1 mg Asam stearat 3 mg 3. Bagian B : Gliserol 2 mg Trietanolamin 0,1 mg Metil paraben 0,75 mg Aquadest ad 100 ml
 CARA KERJA 
 1. Pembuatan ekstrak teh hijau dan apel 200mg Teh Hijau kering dan 200mg apel segar yang dipotong-potong dimasukkan di bejana ↓
 Simplisia direndam dengan penyari campuran etanol 95% dan aquades (1:1) sebanyak 500ml ↓
 Biarkan 5 hari, diaduk sehari sekali ↓ Setelah 5 hari , serkai, ampas diperas ↓ Ampas ditambah cairan penyari secukupnya, aduk serkai hingga keseluruhan sari yang diperoleh 750 ml ↓ Buat ekstrak kental ↓ Timbang ekstrak kental yang diperlukan 2. Pembuatan Lotion Bagian A (setil alkohol, lanolin, asam stearat) dipanaskan sampai 70°C, begitu pula bagian B (gliserol, trietanolamin, metil paraben, aquadest) ↓ Bagian B ditambahkan ke dalam bagian A sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen ↓ Campuran perlahan-lahan didinginkan sambil terus-menerus diaduk sampai suhunya 40°C, sehingga menjadi lotion. ↓ Campuran ditambahkan ekstrak teh hijau dan ekstrak apel ↓ campuran dihomogenkan ↓ Tambahkan oleum jasmin secukupnya, homogenkan ↓ Masukkan dalm wadah dan diberi kemasan HASIL PERCOBAAN Didapatkan lotion ebagai berikut: Volume : 80 ml Warna : Coklat susu Konsistensi : kental-cair Bau : Melati
 PEMBAHASAN 
 Kosmetika juga mudah teroksidasi oleh udara sehingga terjadi pemecahan bahan yang terkandung didalamnya, yang akan mengubah warna dan bentuk kosmetika. Untuk mencegah hal tersebut digunakanlah bahan antioksidan. Antioksidan dalam kosmetik berfungsi untuk menghambat degradasi zat aktif dari tabir surya. (Sugihartini N, 2004, Tesis) Bentuk lotion adalah salah satu bentuk sediaan yang cukup banyak digunakan sampai saat ini karena sifat penggunaanya yang praktis dan dapat memenuhi keinginan yang dibutuhkan. Salah satunya diterapkan dalam sediaan Hand & Body Lotion. Dengan menggunakan Hand & Body Lotion dapat mengatasi problema kekeringan kulit serta pelindung efektif terhadap sinar UVA dan UVB. Muirtini, dkk (1995) menjelaskan bahwa penyinaran kulit oleh UVB maupun UVA dapat menyebabkan eritema atau pigmentasi kulit. Manchan (1984) kebiasaan berjemur atau sunbath mengakibatkan hal yang merugikan, yaitu mulai terbakarnya kulit (sunburn), sampai kanker kulit. Dilaporkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 8 juta penderita kanker kulit di dunia. Bebrapa laporan mengindikasikan teh hiaju dapat mencegah kanker kulit karena teh hijau mengandung polifenol yang bersifat antioksidan. Katekin adalah grup terbesar dari polifenol teh hijau. Katekin yang terpenting adalah epigallocatechin-3-gallate (EGCG), (Murakami, 2002). Tanin dapat menghambat pembentukan oksigen aktif yang dapat menyebabkan oksidasi ( Rauha, 2001; Okuda et al., 1992) Black (1990) menyatakan bahwa antioksidan memiliki potensi sebagai fotoprotektor. Cahaya UV dapat memacu pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas pada kulit. Senyawa dengan kemampuan antioksidan atau penangkap radikal bebas dapat berkompetisi dengan molekul target dan mengurangi atau mengacaukan efek yang merugikan Daun teh hijau maupun buah apel mempunyai senyawa antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang jika berada pada konsentrasi yang relatif lebih rendah dibandingkan konsentrasi suatu substrat, maka akan teroksidasi terlebih dahulu, sehingga dapat mencegah terjadinya oksidasi substrat tersebut. Bahan yang digunakan dalam maserasi adalah campran dari daun teh hiaju kering dan buah apel segar. Apel dipotong kecil-kecil agar penyarian sempurna. Bahan yang digunakan bukan berbentuk serbuk karena untuk lebih efisien waktu, dan agar senyawa aktif tidak banyak hilang akibat perlakuan penyerbukan dan pengeringan. Penyari yang digunakan adalah campuran dari etanol 96% dan aquades (1:1). Pemilihan penyari ini didasarkan atas senyawa yang akan diambil. Senyawa-senyawa yang dibutuhkan adalah senyawa yang besifat antioksidan seperti polipenol (flavonoid, tanin, katekin dan derivatnya). Glikosida flavonoid dan aglikon yang lebih polar, flavon yang mempunyai gugus hidroksi, flavonol, biflavonoid, auron dan chalkon umumnya diisolasi dari bahan tanaman denagn aseton, alkohol, air, atau campurannya. Kemungkinan pelarut yang baik digunakan untuk mengekstraksi golongan diatas adalah campuran metanol-air (1:1, v/v) (Harborn, 1975). Sedangkan apel yang mengandung polipenol dengan konsentrasi tinggi mempunyai kelarutan tinggi pada air. Tannin terkondensasi dari apel mempunyai kelarutan tinggi pada air daripada monomer katekin (Yanagida,____ ). Maka dari itu, untuk mengambil senyawa aktif dari teh maupun apel digunakan kombinasi pelarut etanol 96% dan aquades. Pembuatan ekstrak apel dan teh hijau dilakukan dengan cara maserasi. Alasan digunakan metode maserasi adalah metode ini sederhana, mudah dan tanpa pemanasan. Jika ada pemanasan dikhawatirkan senyawa antioksidan akan terurai atau rusak. Pada percobaan perendaman dilakukan selama 5 hari dalam kondisi terlindung dari cahaya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi zat aktif yang telah tersari dari kemungkinan adanya oksidasi oleh cahaya. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam proses maserasi adalah, selama proses perendaman bejana harus ditutup. Hal ini untuk mencegah terjadinya penguapan dari etanol, mengingat etanol mudah menguap. bila etanol banyak yang menguap maka cairan penyari akan berkurang sehingga proses maserasi kurang optimal. Selain itu, dengan adanya etanol yang menguap akan menurunkan kadar etanol dalam cairan pelarut yang dapat mengakibatkan perubahan efektivitas etanol dalam mencegah pertumbuhan kapang, jamur, mikroba. Rendaman selalu diaduk, dua kali sehari. Pengadukan ini bertujuan untuk meningkatkan kontak antara cairan penyari dengan simplisia sehingga meningkatkan penyarian. Selain itu juga untuk menghomogenkan/meratakan cairan penyari untuk menjaga selalu adanya gradien konsentrasi yang menjadi syarat terjadinya transpor massa. Pada hari kelima dilakukan penyaringan. Penyaringan menggunakan kain flannel agar mampu menahan serbuk sehingga tidak ikut tercampur dengan filtrat Ampas ditambah lagi dengan cairan penyari sampai diperoleh 750 ml sari. Filtrat yang terkumpul dipisahkan, kemudian diuapkan menggunakan pemanasan diatas penangas air dan pengurangan tekanan dengan bantuan kipas angin sambil diaduk-aduk untuk mempercepat penguapan hingga diperoleh ekstrak dengan konsentrasi yang kental. Kontrol dilakukan dengan mengamati secara visual dari ekstrak yang diperoleh. pengamatan terdiri dari warna, bau, rasa, dan konsistensi. Kontrol ini sebagai pengenalan awal yang sederhana seobyektif mungkin dari ekstrak. Untuk ekstrak kental didapat data yang berupa rasa pahit, bau khas, dengan warna kecoklatan, konsistensi sangat lengket dan liat. Hal ini disebabkan oleh penyari yang berupa etanol 96%. Serta pada buah apel kandungan gulanya relatif tinggi sehingga menambah kekentalan ekstrak. Karena ekstrak lengket dan menempel pada alat, perhitungan randemen tidak sempat dilakukan. Pada formulsi, bagian A terdiri dari setil alkohol, lanolin, asam stearat. Bagin A merupakan bagian lipofilik, yaitu terdiri dari bahan-bahan yang larut dalam lemak. Lanolin adalah Adeps lanae yang telah menyerap air atau mengandung air yang ditambahkan. Lanolin mampu menyerap air sampai 30%. Lanolin merupakan basis absorbsi (W/O) dimana sifat-sifatnya adalah Emollient (melunakkan kulit), Occlusive (memberi lapisan penutup diatas kulit), Mengandung air, dan Greasy (mengandung minyak). Pada praktikum inj diguanakan stearil alkohol untuk mengganti setl alkohol. Stearil alkohol ini berperan penting dalam pembuatan emulsi dan sebagai antifoam agent Stearil alkohol ini larut dalam alkohol, eter, benzena dan aseton. Asam stearat sangat sedikit larut dalam air. Asam sterat ini biasanya digunakan dalam vanishing cream dan kosmetika lain.. Bahan Bagian B adalah gliserol, metil paraben, trietanolamin dan aqua. Bagian B ini terdiri dari bahan-bahan yang larut dalam air. Metil paraben sebagai pengawet (preservatif). Pengawet ditambahkan untuk mencegah kontaminasi, pengrusakan dan pembusukan oleh bakteri dan fungi. Hal iitu dikarenakan adanya aquadest dan lanolin merupakan substrat mikoorganisme. Trietanolamin berperan dalam pembuatan emulsi dengan mineral, minyak tumbuhan, parafin dan wax. Trietanolamin larut dalam air dan mempunyai viskositas sebesar 590,5 centipoise pada suhu kamar. Sedangkan Gliserol berfungsi untuk menaikkan viskositas dari emulsi (lotion) Masing-masing, bagian A dan bagian B dipanaskan pada suhu 70oC. Pemanasan pada bagian A berfungsi untuk melehkan bahan-bahan padat. Sedangkan pemanasan bagian B bertujuan untuk melarutkan dan menghomogenkan bahan-bahan yang ada pada campuran tersebut. Bagian A dan dan bagian B lalu dicampur didalam mortir dengan pengadukan yang kuat. Setelah terbentuk emulsi, ditambahkan ekstrak dan sebagai corigen odoris ditambahkan minyak melati. Lotion yang dihasilkan viskositasnya rendah atau encer. Viskositas dari Hand and Body Lotin dalam bentuk emulsi dipengaruhi oleh prinsip kerja alat. Untuk hasil yang optimal, maka alat yang diguanakan dalam pencampuran bahan adalah homogenizer. Alat ini mempunyai karakteristik memperkecil ukuran partikel yang sangat efektif. Pengecilan partikel terjadi karena cara alat ini yaitu dengan menekan cairan, dipaksa melalui celah yang sempit dan kemudian dibenturkan ke suatu dinding atau ditumbukkan pada peniti-peniti metal yang ada pada clah tersebut. Cara ini sangat efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata < 1 um. Semakin kecil diameter partikel, maka semakin stabil sediaan emulsinya. Karena keterbatasan alat, pada praktikum ini tidak digunakan homogenizer.

Minggu, 15 Maret 2015



MAKALAH
PEMBUATAN SEDIAAN SEMI PADAT

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan dilaksanakan untuk meningkatkan kemauan, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri dan mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan ini tidak dapat dilepaskan dari pembangunan sektor kefarmasian.
Peran aktif masyarakat membutuhkan ketersediaan informasi yang berkaitan dengan ilmu kefarmasian. Informasi yang disampaikan harus menjaga nilai-nilai ilmiah yang berlaku dengan tetap memperhatikan kemudahan dipahami oleh masyarakat. Mengingat akan pentingnya suatu kesehatan bagi masyarakat maka diperlukan pengetahuan yang lebih luas lagi tentang kesehatan itu sendiri terutama bagi kalangan mahasiswa dalam mempelajari dunia kefarmasian.


MAKALAH
PEMBUATAN SEDIAAN SEMI PADAT

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan dilaksanakan untuk meningkatkan kemauan, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri dan mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan ini tidak dapat dilepaskan dari pembangunan sektor kefarmasian.
Peran aktif masyarakat membutuhkan ketersediaan informasi yang berkaitan dengan ilmu kefarmasian. Informasi yang disampaikan harus menjaga nilai-nilai ilmiah yang berlaku dengan tetap memperhatikan kemudahan dipahami oleh masyarakat. Mengingat akan pentingnya suatu kesehatan bagi masyarakat maka diperlukan pengetahuan yang lebih luas lagi tentang kesehatan itu sendiri terutama bagi kalangan mahasiswa dalam mempelajari dunia kefarmasian.